desainer busana muslim internasional

Desainer Busana Muslim Internasional – Bagi para desainer muslimah, fashion tidak hanya sekedar koleksi model baju terbaru atau dandanan apa yang sedang trend. Tidak juga sekedar gaya hidup hedonisme dimana uang dihamburkan untuk membeli pakaian, perhiasan dan segala asesorisnya. Fashion bagi mereka adalah bagaimana menggiring opini masyarakat dari wacana keterbelakangan menjadi dunia Islam yang modern. Fashion adalah salah satu cara merubah stigma muslimah sebagai perempuan kuno yang fungsinya hanya sebagai pelengkap rumah tangga menjadi sosok cerdas yang independen dan membantu membangun peradapan dunia. Siapa saja mereka? Mari kita kupas satu per satu.

Hana Tajima

Hana Tajima adalah muslimah berdarah jepang berkebangsaan Inggris. Dia memutuskan masuk Islam ketika berusia 17 tahun dan langsung berkomitmen untuk berjilbab. Keunikan dari desain Hana Tajima adalah busananya yang nyaman dan bersifat kasual. Kerudung yang dipakainyapun sangat modis dan unik mencerminkan seorang muslimah modern yang open mind dan fleksibel.

Kini Hana Tajima dengan Modest Wear-nya berkolaborasi dengan Uniqlo, sebuah pabrikan busana kasual dari Jepang meluncurkan lini khusus untuk busana muslimnya. Kolaborasi ini disambut baik oleh para penggemarnya di seluruh dunia. Produknya meliputi dress, blouse, tunik maupun coat, termasuk jilbab segi empat beraneka motif dan warna yang sekarang kembali populer.

Anniesa Hasibuan

Anniesa Hasibuan adalah Muslimah Warga Negara Indonesia yang rancangannya kini terkenal secara internasional. Baru-baru ini dia ramai diberitakan karena pertunjukkannya di New York Fashion Week dengan menghadirkan model yang kesemuanya imigran. Keputusannya ityu dianggap langkah berani karena berlawanan dengan kebijakan “anti imigran dan anti Islam” yang didengung-dengungkan oleh Presiden Trump.

Pagelaran Fashion shownya di New York mengusung tema silver, emas, dan metalik yang megah dan gemerlap, seperti gemerlapnya para putri bangsawan Nusantara jaman dulu. Seolah-olah ingin menunjukkan bahwa Muslimah modern jauh dari stigma kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Ini berbeda sekali dengan pagelarannya di Jakarta Fashion Week yang justru menampilkan warna-warna lembur dan pastel, yang memberi kesan nyaman, akrab dan friendly.

Iman Aldebe

Iman Aldabe adalah seorang muslimah berdarah Jordania dengan kewarganegaraan Swedia. Tinggal di negara sekuler dengan segala diskriminasinya terhadap umat Islam tidak menghalanginya menjadi seorang muslimah taat. Sebagai anak seorang Imam, dia memperoleh pendidikan agama dengan sangat baik. Tapi disisi lain dia juga tidak menyukai gaya pakaian kerabatnya yang dianggapnya monoton dan membosankan.

Miss Aldebe mulai belajar tentang desain pada usia 16 tahun, saat dia berada di Sekolah Menengah. Dia juga harus menghadapi kritik pedas dari berbagai kalangan yang menentang muslimah memakai make up, berpakaian secara lebih modis hingga menghasilkan uang sendiri. Kini aneka turban elegan yang menjadi produk andalannya dipajang secara eksklusif di aneka butik mulai Paris hingga New York.

Dian Pelangi

Adalah satu hal yang membanggakan ketika anda mencari nama-nama desainer internasional kemudian berderet nama-nama Indonesia bermunculan disana. Dan Dian Pelangi adalah salah satunya. Dian Pelangi terkenal dengan desainnya yang dipenuhi warna-warna cerah, modis dan elegan. Dian Pelangi adalah seoraqng perempuan yang sangat fokus dan tahu betul dunia yang ingin digelutinya. Hobbnya menggambar desain baju di bagian belakang halaman buku-buku sekolahnya. Maka ketika lulus SMP dia melanjutkan ke SMK 1 Pekalongan dan kuliah di ESMOD (Ecole Superieur des Arts et Techniques de la Mode).

Dian Pelanggi dengan butiknya yang memakai namanya sebagai labelnya menjadi anggota Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) pada saat usianya baru 18 tahun. Dia menjadi anggota termuda pada saat itu. Dan pada usia yang sama, dia sukses mengikuti fashion show secara internasional di Melbourne, Australia.

Hanadi Chehab

Hanadi Chehab adalah pemilik butik berlabel “Integrity” yang bermarkas di Sydney, Australia. Berkolaborasi dengan Howayda Moussa, dia mengembangkan labelnya dengan tag laine Faith – Fashion – Fusion dengan semangat menyatukan fashion dan semangat umat Islam dalam menjalankan perintah agamanya.

Desain produknya berfokus pada dress formal, gaun malam serta busana formal lainnya> yang mengejutkan , desainnya tidak hanya diminati kalangan muslimah saja, karena banyak sekali wanita-wanita non muslim yang ingin berpakaian secara lebih sopan yang menjadi pelanggannya. Mereka adalah para wanita yang ingin berpakaian secara tertutup dan sopan tapi tetap stylish dan modis.

Meski sikap Anti Islam masih banyak didengungkan oleh banyak pihak yang merasa terancam dengan keberadaannya, banyak rumah mode mulai mengakomodir kebutuhan pakaian yang sopan dan elegan. Ini tentu saja dipicu oleh para muslimah yang semakin tinggi tingkat kesadaran mereka akan pentingnya menutup aurat. Dan harus diakui secara jujur, bisnis budsana muslim memiliki prospek yang sangat cerah secara internasional. Diperkirakan sebanyak 484 Milard dollar uang akan dibelanjakan untuk kebutuhan fashion muslimah pada akhir 2019. sungguh prediksi yang sangat menggiurkan siapa saja.

LEAVE A REPLY